SMA De Britto Jogja: Sekolah Bebas Bertanggung Jawab dengan Kelas 'Kandang Kuda'

Table of Contents

SMA De Britto Jogja, Sekolah Unik yang Mengedepankan Kebebasan dan Tanggung Jawab

KONCOAN.COM - Di tengah banyaknya sekolah yang menerapkan aturan ketat, Jogja memiliki satu sekolah yang dikenal dengan pendekatan berbeda. SMA Kolese De Britto di Jalan Laksda Adisucipto, Caturtunggal, Sleman, selama puluhan tahun mempertahankan konsep pendidikan yang mengedepankan kebebasan sekaligus tanggung jawab.

Sekolah khusus laki-laki ini tak hanya dikenal karena siswanya diperbolehkan berambut gondrong atau memakai sandal, tetapi juga karena filosofi pendidikan yang menempatkan karakter sebagai fondasi utama pembelajaran.

Berawal dari SMA Kanisius

Wakil Kepala Bidang Humas dan Jejaring SMA Kolese De Britto, Christophorus Danang Wahyu Prasetio, menjelaskan bahwa sejarah sekolah ini tidak bisa dilepaskan dari SMA Kanisius yang berdiri pada 19 Agustus 1948.

Saat itu, sekolah masih menerima siswa laki-laki dan perempuan dengan jumlah angkatan pertama sebanyak 65 orang. Namun, situasi politik dan agresi militer pada 1949 membuat sekolah tersebut kemudian dipisah.

"De Britto itu yang untuk laki-laki, Stella Duce itu yang perempuan. De Britto berada di bawah Romo Jesuit," kata Danang.

Pada 1953, pembangunan kampus baru dimulai di kawasan Demangan Baru atau lokasi yang saat ini menjadi alamat SMA Kolese De Britto. Kegiatan belajar mengajar mulai berjalan pada 1958. Menurut Danang, pada 2028 mendatang sekolah tersebut akan memasuki usia 80 tahun.

Filosofi Pendidikan 1L+5C

Sebagai sekolah yang berada di bawah naungan pendidikan Jesuit, De Britto menerapkan konsep pendidikan yang menyeimbangkan kemampuan intelektual, kepekaan sosial, dan karakter.

Profil lulusan De Britto dirangkum dalam konsep 1L+5C, yakni leadership (kepemimpinan) yang didukung competence, conscience, compassion, commitment, dan consistency.

"Pemimpin yang memiliki 5C tadi, competence itu terkait pengetahuan, conscience hati nurani, compassion bela rasa, commitment sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan, dan consistency," jelas Danang.

Konsep tersebut menjadi dasar pembentukan karakter siswa selama menempuh pendidikan di sekolah.

Kebebasan dengan Konsekuensi

Julukan sekolah bebas yang bertanggung jawab bukan tanpa alasan. De Britto memberikan ruang ekspresi yang lebih luas dibanding banyak sekolah lain.

Siswa diperbolehkan mengenakan sandal dengan pengait belakang, memakai pakaian nonseragam pada hari tertentu, hingga memelihara rambut gondrong selama tidak diwarnai.

Meski demikian, kebebasan itu tetap dibatasi oleh nilai dan tanggung jawab.

"Bebas bertanggung jawab ini bukan bebas semau gue. Tetap ada aturan, tetapi yang ditekankan adalah berpikir sebelum berbuat," ujar Danang.

Pendekatan yang diterapkan juga berbeda dalam menangani pelanggaran. Sekolah lebih mengutamakan diskusi dan konsekuensi dibanding hukuman langsung. Guru akan mengajak siswa memahami alasan di balik tindakan yang mereka lakukan agar muncul kesadaran dari dalam diri.

Namun ada satu pelanggaran yang mendapat perhatian khusus, yakni ketidakjujuran.

"Kalau mencontek itu langsung SP 2 karena yang kita latih adalah kejujuran," tegas Danang.

Menurutnya, pada tahun ini sejumlah siswa bahkan harus keluar dari sekolah karena tidak menunjukkan perubahan setelah mendapat peringatan terkait pelanggaran kejujuran.

Kelas Terbuka yang Dijuluki 'Kandang Kuda'

Ciri khas lain yang membuat SMA De Britto dikenal di Jogja adalah ruang kelasnya yang unik. Sebagian besar kelas tidak memiliki pintu maupun jendela sehingga kerap disebut "kandang kuda".

Bangunan tersebut merupakan desain asli sekolah yang dipertahankan hingga sekarang. Selain mendukung sirkulasi udara alami, konsep ruang terbuka itu juga menjadi sarana pembentukan karakter siswa.

Menurut Danang, kondisi kelas yang terbuka melatih kepekaan antarsiswa dan antarkelas. Ketika satu kelas sedang belajar atau ujian, kelas lain dituntut menjaga suasana agar tidak mengganggu.

Meski pernah muncul rencana renovasi, baik alumni maupun siswa menolak perubahan bentuk kelas tersebut karena dianggap menjadi bagian dari identitas dan sejarah sekolah.

Dengan sejarah panjang, filosofi pendidikan Jesuit, serta konsep kebebasan yang dibarengi tanggung jawab, SMA Kolese De Britto tetap menjadi salah satu sekolah paling ikonik di Jogja. Keunikan inilah yang membuatnya terus dikenal sebagai sekolah yang menempatkan karakter dan kejujuran sebagai nilai utama dalam proses pendidikan.***

Posting Komentar