Balita Ditinggal di Gunung Prau, Menangis Sendirian di Tenda saat Orang Tua ke Puncak

Table of Contents

Balita menangis sendirian di dalam tenda Gunung Prau saat orang tuanya mendaki ke puncak, berdasarkan video viral di TikTok

KONCOAN.COM - Sebuah video yang memperlihatkan balita ditinggal sendirian di dalam tenda saat orang tuanya mendaki ke puncak Gunung Prau viral di media sosial. Anak tersebut disebut menangis selama kurang lebih 1,5 jam sebelum akhirnya ditemukan dan ditemani pendaki lain.

Video itu diunggah oleh akun TikTok @alifs827. Sejumlah pendaki yang mendengar tangisan dari dalam tenda kemudian menghampiri dan menemani balita tersebut hingga orang tuanya kembali.

Kronologi Balita Ditinggal di Gunung Prau

Berdasarkan keterangan dalam unggahan, kedua orang tua balita tersebut pergi menuju puncak Gunung Prau dan meninggalkan anaknya di dalam tenda.

Tangisan balita itu menarik perhatian pendaki lain. Mereka kemudian memutuskan untuk menghampiri tenda dan menemani anak tersebut karena tidak terlihat didampingi orang tuanya.

Dalam materi video lainnya, disebutkan bahwa balita itu berada sendirian selama kurang lebih 1,5 jam. Pendaki yang merekam kejadian tersebut juga memperlihatkan momen ketika ayah anak itu kembali ke tenda.

Ayah Balita Beri Penjelasan kepada Pendaki

Setelah kembali, ayah balita tersebut menjelaskan alasan dirinya pulang lebih dahulu dari pendakian. Ia mengaku sudah melakukan persiapan, tetapi jarak menuju puncak ternyata lebih jauh dari perkiraannya.

"Iya mas tadi sudah prepare mas, kita kan sudah panik maksudnya cek dikira deket kan, ternyata jauh, makanya saya langsung pulang duluan," ujar ayah balita tersebut dalam video.

Perekam video kemudian mengingatkan sang ayah agar tidak kembali meninggalkan anaknya sendirian.

"Dedenya nangis lama banget, Lain kali jangan ditinggal mas," ujar perekam video.

Video Viral Tuai Kritik Warganet

Kejadian tersebut menuai beragam reaksi di media sosial. Sejumlah warganet menyayangkan keputusan orang tua meninggalkan balita tanpa pendamping ketika melakukan pendakian.

Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa keselamatan dan kebutuhan anak perlu menjadi prioritas dalam setiap kegiatan di alam terbuka.

Orang tua yang membawa balita mendaki perlu mempertimbangkan kondisi anak serta memastikan ada pendamping yang bertanggung jawab selama kegiatan berlangsung.

Keselamatan anak tidak seharusnya dikorbankan demi mencapai puncak. Dalam pendakian bersama keluarga, memastikan anak tetap aman dan terawasi merupakan hal yang utama.***

Posting Komentar